Jangan Sampai Menyesal

  • Mei 31, 2024
  • By sarahmtv.blogapot.com
  • 0 Comments

"No, No, No...," ucap kakak saya kepada anak perempuan pertama saya, Raihana. Tentu dengan gestur tangan dua jari dari dua tangannya. Semenjak diajari "No No No" itu dia jadi paham kalau "No No No" itu "tidak" artinya.

Bukan cuma itu saja, saat saya nyanyikan "Baa Baa Black Sheep" dengan menggerakkan tiga jari, anak saya yang sebentar lagi akan berusia satu tahun menirukannya juga, tentu dengan jari berbeda, dia tunjukkan jari tengah, jari manis dan jari kelingkingnya dengan penuh gembira. Diulang-ulang pun jarinya tetap sama.




Saat masih berada dalam kandungan, terutama saat ia sudah bisa mendengar di trimester kedua, saya mulai ajarkan Raihana bahasa kedua, caranya saya mulai dari bicara bahasa Inggris dengan membacakan buku cerita dua bahasa.

Lalu saya ajarkan pula dengan nyanyian melalui lagu-lagu anak berbahasa Inggris yang berasal dari Malaysia. Responnya saat itu antusias sekali dia. Gerakan demi gerakan diberikannya saat saya berekspresi dan nyaringkan suara. Sungguh jadi momen yang akan saya kenang selamanya.

Jauh sebelum menikah, saya sudah memikirkan mempelajari bahasa asing untuk anak itu penting sekali terutama saat mereka masih berusia sangat muda.

Sementara itu Analis European Education and Culture Executive Agency untuk Uni Eropa, Nathalie Baidak bersama Aislinn Curran dalam tulisan mereka "Focus On: Is younger always better when it comes to learning a foreign language?" yang terbit pada 27 April 2023 menuliskan anak-anak  lebih muda belajar bahasa asing dengan cara yang sama sekali berbeda dengan anak-anak yang lebih tua.

Mereka belajar secara implisit, melalui interaksi, lagu-lagu, berbagai permainan, mendengarkan dan menirukan bunyi seperti dalam bahasa ibu mereka.

Kemudian, tulis Baidak dan Curran lagi, anak-anak lebih muda juga memiliki lebih sedikit hambatan dan lebih cenderung mengambil risiko tanpa khawatir dikoreksi.

Oleh karena itu, mereka termotivasi dari keinginan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. (https://eurydice.eacea.ec.europa.eu).

Meski saya telah memahami belajar bahasa asing untuk anak itu penting sekali namun di sisi lain saya juga masih dibayang-bayangi ketakutan "Speech Delay" atau "Keterlambatan Bicara" jika mengajarkan bahasa asing pada anak saya. Apalagi jika berkaca pada pengalaman artis Nirina Zubir yang anaknya mengalami speech delay padahal ia sendiri menguasai berbagai bahasa. (haibunda.com)

Namun hilang sudah kegalauan dan kekhawatiran saya karena belajar bahasa asing akan menyebabkan keterlambatan bicara  ternyata hanya mitos belaka, selain itu Terapis Wicara Expressable Fab Leroy, MS, CCC-SLP, menerangkan “anak-anak bilingual bisa mencapai tonggak perkembangan mereka bersamaan dengan anak-anak monolingual.

Jika seorang anak mengalami keterlambatan bicara atau bahasa, hal ini akan terlihat jelas pada kedua bahasa (bukan salah satunya, red.), lalu keterlambatan bicara bukan akibat dari penguasaan dua bahasa. Tidak hanya itu memadukan dua bahasa dalam komunikasi tidak akan menunjukkan kebingungan pada anak,". (expressable.com).

Setidaknya ada tiga alasan belajar bahasa asing saya masukkan pula dalam parenting :
Pertama, saya tidak ingin anak saya menyesal nantinya seperti saya yang saat masih anak-anak dulu tidak serius mempelajari bahasa asing, bahkan saat mengikuti kursus bahasa asing anak sekalipun sehingga saya kesulitan berkomunikasi saat mewawancarai penyanyi reliji favorit saya : Maher Zain! dan mewawancarai orang-orang asing ketika masih bekerja sebagai Jurnalis kala itu.

Kedua, saya ingin anak saya kelak melampaui jauh dari orangtuanya. Menguasai satu bahasa asing saja sudah membuat saya bahagia, apalagi sampai dua bahasa.

Ketiga, mempelajari bahasa asing memudahkannya untuk memahami berbagai budaya yang sangat berbeda dari negaranya, Indonesia.

Setelah menjadi orangtua, saya menyadari  mempelajari bahasa asing sejak usia dini tidak hanya meningkatkan keterampilan kognitif, tetapi juga bisa membawa manfaat linguistik, kemudian penalaran, pemecahan masalah dan memori, serta meningkatkan keterampilan komunikasi dan antarbudaya. (Aislinn Curran dalam tulisan mereka "Focus On: Is younger always better when it comes to learning a foreign language?", https://eurydice.eacea.ec.europa.eu).

Meski demikian saya berpikir, mempelajari bahasa asing hanya di sekolah formal saja tidak cukup, apalagi jika dalam seminggu hanya sekali dua kali dan sampai lima jam saja waktunya.

Tentu saja anak saya akan memerlukan kursus bahasa asing anak, jika lebih spesifik lagi maka kursus bahasa Inggris anak online yang Tutornya bukan hanya berpengalaman, bersertifikasi tapi sabar dan cinta anak juga.

Cakap Kids Academy menjadi lirikan dan pengamatan pertama saya, apalagi lembaga kursus bahasa asing ini sudah tersebar di 96 kota se Indonesia termasuk Yogyakarta, punya 2000 lebih tenaga pendidik  dan ada empat juta lebih muridnya. Wow! Artinya Cakap dan Cakap Kids Academy merupakan lembaga kursus bahasa asing yang terpercaya.

Hanya di Cakap Kids Academy saya temukan pembelajaran campuran selain pembelajaran online. Apa tuh pembelajaran campuran? Jadi memadukan kelas luring tematik dengan bahasa sehingga anak tidak terasa seperti sedang belajar bahasa. Selain itu di Cakap Kids Academy juga ada 31 level dengan 1 level nya itu sekitar tiga bulan pembelajaran dan tersedia sejak anak berusia empat tahun hingga 12 tahun.

Yuk Ayah Bunda jangan sampai buah hatinya menyesal seperti saya saat waktu kecil dulu, jangan tunda untuk daftarkan buah hatinya di Cakap Kids Academy dengan memasukkan kode referral SARCKPSTC3I55. Nantinya anak Ayah Bunda akan mendapatkan diskon spesial untuk belajar bahasa Inggris di lembaga terpercaya!.








You Might Also Like

0 komentar